26 Agustus 2008

Solusi Mencairkan Cek Google AdSense buat Para Perantau

Saya yakin rekan-rekan yang berpartisipasi di Google AdSense tahu betapa ketatnya pihak bank dan Google dalam menangani urusan pencairan cek Google AdSense. Beda alamat domilisi atau salah nama di KTP bisa bikin urusan jadi runyam. "Ya, kita musti hati-hati mas... soalnya ini sama bank luar negeri", kurang lebih begitu kata mbak kasir Citibank yang bikin saya ded-degan (entah takut gak bisa diproses ceknya atau memang mbaknya cakep banget, hehehe).

Soal beda alamat domisili, ini jadi salah satu kendala buat rekan-rekan yang berdomisili di perantauan, entah karena pekerjaan atau studi. KTP masih dari kampung tercinta, tapi alamat domisili saat daftar AdSense diisi alamat sekarang (karena pertimbangan biar praktis urusan). Setelah 3 minggu masa penantian kiriman cek Google, tahu-tahu pihak bank bilang alamat KTP musti sama dengan alamat di cek. Mak...!

Nah, bagi rekan-rekan senasib yang mengalami kesulitan dalam mencairkan cek Google AdSense, mungkin ini bisa jadi alternatif solusi. Waktu itu, pihak bank mengatakan harus ada surat keterangan domisili, minimal dari kelurahan alamat sekarang (nggak boleh hanya dari pak RT). Ya sudah, birokrasi musti ditempuh, minta surat ke pak RT, teken pak RW, lalu ke kelurahan. Rupanya staf kelurahan mensyaratkan berkas tambahan, istilahnya disebut surat BORO (begitu pronounce-nya, belakangan saya tahu tidak ada kata seperti itu di suratnya..haha). Intinya, ini surat keterangan dari kelurahan di kampung halaman yang menyatakan kita adalah warga desanya yang sedang merantau untuk kepentingan bla bla...

Ya sudah, setelah terbengkelai beberapa saat, akhirnya saya urus surat itu di kampung, sekalian pas ada urusan lain. Sebenarnya nggak pulang juga bukan masalah.. cukup minta tolong saudara di kampung buat ngurus mintakan surat itu ke pak sekdes, lalu kirim suratnya via pos.. beres (urusan di kampung memang lebih mudah, hehe).

Keberuntungan mulai memihak. Saat saya kembali ke kelurahan untuk menyerahkan berkas tambahan, staf kelurahan menawarkan solusi menarik. "Daripada harus bolak-balik bikin surat yang sama, berkas ini juga sudah cukup buat ngurus KTP Sementara, gimana mas?" Sip lah, saya ambil tawarannya. KTP sementaranya bisa dipake selama setahun, dan bisa diurus lagi perpanjangannya.

Berbekal surat permohonan KTP sementara yang dibuatkan staf kelurahan, surat rantau dari kampung, dan 2 lembar pas foto jadul saya ke kantor kecamatan. Seminggu kemudian, KTP sementara sudah terbit dan bisa diambil. Langsung cabut ke Citibank lagi, serahkan cek dan fotokopi KTP Asli dari kampung + KTP sementara, akhirnya diproses juga cek Google AdSense. Biaya pengurusan 100 rb dibayar dimuka dan kita disuruh nunggu sebulan.

Sebulan kemudian telepon dari Citibank saya terima dan memberitakan uang sudah cair. Akhirnya bisa masuk kantong juga duit Google. Asyiknya lagi, KTP Sementara sudah siap dipakai untuk cek-cek berikutnya.

Buat rekan-rekan yang senasib di perantauan, selamat mencoba!

25 Agustus 2008

jangan kirim kami ke neraka

hari itu, Tuhan punya agenda besar.
memo fatwa telah datang.
perubahan harus segera dilakukan.
deportasi...deportasi!

malaikat pun tampak sibuk.
barisan panjang manusia harus ditimbang ulang.
mungkin sebagian dari mereka adalah orang tua kita, guru kita, bahkan ustadz dan kiai yang dulu pernah mengajari kita mengaji atau menyuruh kita berbuat kebajikan.

di neraka, malaikat tak kalah sibuknya.
sebuah wahana baru sedang mereka siapkan.
sebuah tempat penyiksaan yang sangat besar.
apapun bentuk siksa itu, pasti sangat menakutkan untuk para perokok, petani tembakau, pengusaha dan buruh pabrik rokok, penjual rokok, dan orang-orang yang terlibat dengan barang haram itu...


wahai para alim ulama yang kami muliakan.
dengan segala rasa hormat,
mohon pertimbangkan sekali lagi.
jangan kirim kami ke neraka...

23 Juli 2008

Nendang pantat sendiri!

Kereen... saya senang sekali dengan istilah ini, hehehe. Istilah aslinya 'kick your own butt', sering saya temukan di internet. Rupanya udah jadi judul buku pula.

Jangan ngeres, jangan mikir yang aneh-aneh. Ini soal motivasi. Ini jurus andalan buat yang suka berwirausaha, kerja sendiri, termasuk juga buat yang nyari nafkah dari dunia penulisan buku.

Ya, seperti layaknya para pengusaha, profesi nulis juga tidak jauh berbeda. Tidak berkarya tidak dapat duit, tidak ada yang ngasih gaji (buta), ...nunggu royalti semester depan? mana tahaaan!

Kalo untuk usaha dan profesi lain, deadline, dikejar pelanggan, modal kerja yang udah tertanam, atau banyak pasal lagi bisa dijadikan motivasi buat bekerja. Payahnya, kalo nulis nggak ada pelanggan yang ngejar, deadline juga tarik-ulur, modal tertanam? nggak banyak amat. Pokoknya modal melamun, ngoprek, baca, dan sebelas jari nan lentur.

Kalo malas lagi datang (kerennya... ngaku lagi 'nggak mood', hahah), wah dampaknya akan kerasa bulan-bulan depan. Yah, kok ngga ada duit masuk sih, baru ingat kalo 2-3 bulan lalu nggak jelas ngapain di depan komputer.

Kembali ke soal tendang-menendang, sebenarnya semua pasti dapat. Kena tendang pantat maksud saya hahaha... Bos siap nendang pantat karyawan yang ngeblog melulu (lol), pelanggan siap nendang pantat pengusaha yang nggak kelar-kelar proyeknya, begitu seterusnya (saya yakin para bos dan pelanggan itu juga sering ditendang pantatnya, makanya jadi suka nendang-nendang gitu).

Nah, penulis? ya gimana lagi kalo nggak ngandalin tendangan sendiri. Jadi, ayo kawan, mari nendang pantat sendiri! Jangan tunggu pasangan atau anak-anak yang melakukannya untuk Anda.. nah loh!